#1 Jalan-Jalan Ke Facebook : Sharing Class Soal Mengelola Medsos Pemerintahan

Alhamdulillah, hari Jumat kemarin saya berkesempatan mengunjungi kantor Facebook Indonesia di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Di sana, saya dan teman-teman penggiat media sosial Badan Karantina Pertanian – Kementerian Pertanian, mengikuti sharing class tentang pengelolaan media sosial bagi pemerintahan.

Kalau dulu kita mengenal media sosial dipakai untuk ajang silaturahmi dan ajang menambah pertemanan, tapi kini media sosial telah bertransformasi menjadi platform dalam menyebarluaskan informasi. Ini juga yang dimanfaatkan pemerintah dalam memviralkan program-program dan kebijakan kepada masyarakat luas.

Kelas Digital untuk Pemerintah, itulah sesi yang kami ikuti. Di Facebook, ada divisi khusus bernama Politics and Government Outreach, yang tugasnya menangani hal-hal berkaitan dengan pemerintahan dan politik agar bisa berkomunikasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui platform milik perusahaan Facebook, seperti Facebook Page, Instagram, Messenger, dan WhatsApp.

Di awal sesi, Noudhy Valdryno, sang narasumber, mengatakan bila media sosial telah memberikan dampak sosial dan ekonomi di Indonesia. Media sosial telah mendukung bisnis dan ekonomi bagi pengembangan usaha kecil menengah (UKM), serta membuka peluang-peluang baru terbukanya pasar digital bagi UKM. Media sosial berperan meningkatkan produktivitas dan kualitas suatu produk untuk bersaing lebih baik lagi.

Lebih lanjut, Ryno, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa otak manusia lebih mudah memproses gambar daripada tulisan. “Imej yang jelas, komunikatif, dan to-the-point lebih mudah menjangkau viewer sehingga pesan yang dibawa akan lebih mudah mengena,” ujarnya.

Besarnya jangkauan media sosial menjadi peluang untuk menyebarluaskan informasi

Besarnya jangkauan media sosial menjadi peluang pemerintah untuk menyebarkan informasi, program, dan kebijakan kepada masyarakat. Hal ini penting dilakukan agar timbul timbal balik (feedback) atas kebijakan yang ditelurkan; pemerintah bisa menyampaikan programnya, sedangkan masyarakat bisa mengetahuinya bahkan mengkritisi dan memberi saran-saran.

Konten yang menarik, simpel, tidak kaku, variatif, informatif, substantif, dan komukatif, menjadi kunci keberhasilan menjangkau viewer. Masyarakat suka informasi yang real-time, terkini, dan akurat.

Urutan jangkauan media sosial yang muncul di newsfeed adalah live (siaran langsung), video, gambar (termasuk infografis), tulisan (text), baru link. Live pada Facebook dan Instagram memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada link. Tips: tulis caption jangan terlalu panjang, dan to-the-point.

Oleh karenanya, dalam mengelola Facebook Page ataupun Instagram perlu tim, dan tidak boleh banyak-banyak.

“Ada bagian Admin, itu 3-5 orang saja maksimal. Admin bertanggung jawab semua hal dalam mengelola akun, termasuk security. Bagian Editor untuk memposting, lalu ada bagian Moderator yang biasa menangani komentar dari netizen, bagian Analis yang membaca engagement dan analytics jangkauan serta pelaporan, dan terakhir ada Penyiar Siaran Langsung yang bertugas menyiarkan event secara live,” imbuhnya.

Ryno menjelaskan soal newsfeed

Tips yang diberikan Facebook Indonesia bagi penggiat media sosial dan content creator, yakni:

  1. Semakin lama, konten yang tercipta semakin banyak, dan tenggelam diantara jutaan konten yang beredar. Sebaiknya, tidak perlu bikin konten terlalu banyak dan memposting sering-sering. Cukup 3-5 postingan dalam sehari.
  2. Perhatikan waktu posting. Sesuaikan dengan jam-jam saat orang giat-giatnya bermedsos, misalnya jam 07.00, 14.00, dan jam 20.00.
  3. Be more social dan less media, dengan membuat konten menarik, terkini, adopsi hal yang sedang tren, memicu percakapan, dan mampu memciptakan komunitas.
  4. Be consistent. Lebih baik memposting 1 hari satu kiriman tapi rutin setiap hari, daripada 3 kiriman dalam sehari tapi esok dan lusa tidak posting sama sekali.
  5. Viewer akan men-scroll newsfeed-nya dengan cepat. Pada ponsel hanya ~1,7 detik, sedangkan pada PC hanya ~2,5 detik. Itulah durasi krusial bagi viewer dalam menangkap perhatian terhadap konten. Makanya, to-the-point kepada pesan yang disampaikan.
  6. Untuk konten video, 3 detik pertama adalah titik kritis bagi viewer dalam menangkap pesan. Taruh poin penting konten pada 3 detik pertama, baru sisanya boleh ada tambahan-tambahan, asal tidak terlalu panjang. Buat video tanpa suara yang bisa dinikmati, akan lebih baik.
  7. Bereksperimen. Latih terus menerus dan perhatikan statistiknya, ada di bagian Insight.
  8. Manfaatkan Instagram Stories, dengan menampilkan, misalnya behind the scene dan/atau inti kegiatan. Misalnya apel, tampilkan persiapan apel. Kalau bisa dimasukkan ke WhatsApp Status lebih baik lagi.
  9. Untuk Instagram, 9 posting pertama tidak boleh monoton. Jangan semuanya foto-foto atau infografis saja, variasi.
  10. Facebook menitikberatkan konten yang formal dan informatif, sedangkan Instagram ditujukan bagi mereka yang mencari minat (niche). Manfaatkan hashtag yang sering digunakan tapi relevan. Tambahkan #indonesia, #kementerianpertanian, #event nya apa.
  11. Maksimalkan aplikasi pembuat konten agar menarik, misalnya Boomerang, Layout, Legend, Inshot, Adobe Photoshop Mix, Piclab, dan masih banyak lagi.
  12. Amati, tidur, dan modifikasi akun-akun medsos lain yang berhasil menciptakan engagement tinggi. Misalnya @ridwankamil dan @europeanparliament.
  13. Manfaatkan iklan yang ditawarkan agar mencapai sasaran dan tujuan organisasi dalam menjangkau viewer. 

Itulah pesan yang saya tangkap dari penjelasan Facebook Indonesia dalam Kelas Digital untuk Pemerintah. Menarik bagi saya karena menambah wawasan dan menjadi panduan dalam mengelola media sosial milik instansi tempat saya bekerja, Badan Karantina Pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *