Seperti Ini Rasanya Perayaan Natal di Merauke

Menjadi warga pendatang di Merauke mengharuskan saya untuk bisa beradaptasi dengan masyarakat dalam segala hal. Mulai dari bersosialisasi dengan warga, berkomunikasi dengan masyarakat, lingkungan alam sekitar, hingga urusan perut. Termasuk dalam hal perayaan-perayaan keagamaan.

Natal menjadi perayaan keagamaan yang disambut meriah di Merauke, selain lebaran. Natal menjadi momen untuk menjalin silaturahmi sanak famili dan handai tolan. Menilik data BPS, di Distrik Merauke saja sekitar 55% penduduknya memeluk agama Kristen dan Katholik, serta 44% nya adalah muslim*.

Sudah sejak 2007 saya merantau. Sejauh ini, toleransi kehidupan beragama di Merauke termasuk yang terbaik, menurut saya. Dimana-mana mudah sekali ditemukan masjid dan gereja. Masyarakatnya hidup saling berdampingan satu sama lain, saling menghargai dan menghormati kepercayaan masing-masing.

Dan tahun ini menjadi Natal pertama bagi saya di Merauke, sekaligus juga pertama bagi saya merasakan Natal yang semeriah ini. Dulu saya jarang sekali ikut merayakan Natal karena lingkungan yang tidak memungkinkan, hanya ucapan saja yang saya berikan. Tapi disini, tampak seolah-olah tanpa sekat. Saya terkesima.

Saat Natal, banyak keluarga Muslim yang bertandang ke rumah keluarga dan kerabat yang merayakan Natal. Pemandangan yang sama saya rasakan saat Lebaran, banyak keluarga non-Muslim mengunjungi rumah dan bersilaturahmi kepada keluarga Muslim yang sedang merayakan Lebaran. Lebih tepatnya seperti timbal balik. Saling menghargai satu sama lain tanpa ada batasan, jikalau ada pun itu sebatas pribadi masing-masing.

Tradisi Open House

Mengunjungi keluarga yang merayakan Natal

Mau di belahan bumi Indonesia manapun, yang namanya Lebaran atau Natal, pasti ada tradisi open house. Mempersilakan sanak keluarga dan kerabat berkunjung dan mencicipi masakan tuan rumah.

Kali ini saya berkunjung ke tiga rumah, semuanya teman-teman di kantor yang merayakan Natal. Begitu masuk rumah, tersaji rapih kue-kue nastar, kastangel, kacang asin, hingga cheese stick. Minumannya berjajar mulai dari Coca-cola, Teh Kotak, sampai air mineral. Tinggal pilih.

Tapi, ini yang berbeda di Merauke, tamu yang datang harus makan. Iya, makan berat. Berkunjung tiga rumah artinya tiga kali makan. Memang begitu, sudah jadi tradisi masyarakat Merauke turun temurun. Saya melahap sup iga, bakso, hingga opor. Kenyang.

Semakin Malam Semakin Ramai

Saat hari raya Natal, teman-teman beribadah hingga siang. Open House biasanya dilakukan setelah pulang dari gereja. Berkumpul dengan keluarga inti menjadi yang utama, baru kemudian sanak famili lainnya.

Suasana semakin ramai menjelang malam, saling berkunjung satu sama lain. Cara menghormati tuan rumah adalah dengan mencicipi hidangannya. Mau tidak mau harus makan. Disitulah nikmatnya.

Makna Perayaan Natal

Masyarakat Merauke menunjukkan bahwa keyakinan adalah urusan masing-masing individu. Hidup berdampingan satu sama lain tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan ras, menunjukkan arti kebhinekaan yang sebenar-benarnya. Nilai keindonesiaan yang begitu terasa, serta rasa tenteram dan damai saling menghargai satu sama lainnya.

Selamat merayakan Natal dan Tahun Baru 2019.

Leave a Reply