Alasan Mengapa Drama Start-Up Layak Dijadikan Inspirasi Hidup

0 Shares
0
0
0
0
0

Akhir-akhir ini, lini masa media sosial (terutama Instagram) ramai perbincangan mengenai drama korea yang berjudul Start-Up.

Iya, siapa yang tak tahu drama keren ini. Bukan hanya pemeran utamanya yang jago akting dan rupawan parasnya, tetapi alur dan inti cerita dari drama Start-Up ini begitu menakjubkan, dan berhasil mencuri kesan saya.

Sampai-sampai saya perlu untuk menulis postingan ini begitu tuntas menyelesaikan nonton drama ini secara maraton sampai episode terakhirnya (Eps 16).

Sejatinya, saya hanyalah penonton, bukan reviewer atau kritikus. Sudah banyak artikel-artikel yang mengulas soal drama Start-Up ini, tinggal Googling saja. Hanya saja, saya ingin berbicara tentang drama ini sesuai versi saya sendiri.

Menyadur dari Tirto.id, drama korea Start-Up yang telah menayangkan episode terakhirnya, atau episode 16 pada Minggu (6/12/2020) di tvN ini, berhasil meraih rating yang cukup stabil, sehingga sangat layak untuk ditonton.

Sayangnya, saya bukan tipe orang yang peduli soal rating, entah itu mau tinggi, stabil, atau rendah, whatever… kalau ada drama korea yang bagus, jadi bahan perbincangan khalayak, serta ceritanya unik beda dari yang lain, saya akan tetap tonton.

Impresi

Pertama, saya terkesan dengan posternya. Komposisi warna, font, dan style-nya terlihat retro namun kekinian, sangat eye-catching. Poster ini adalah kemasan yang sangat berhasil mencuri minat saya agar menonton drama ini. Poster yang bagus berarti dramanya juga bagus. Begitulah kesimpulan awal saya.

Kedua, karakter pemeran utamanya sangat inspiratif. Han Ji-pyong, Seo Dal-mi, Nam Do-san, dan Won In-jae masing-masing punya karakter kuat dan patut dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Alasannya…

Sosok Seo Dal-Mi digambarkan sebagai wanita muda yang tangguh, tak mudah putus asa, segala cara ditempuh untuk menggapai tujuannya. Dal-mi tetap berkomitmen bahwa keputusan untuk memilih tinggal bersama Ayahnya ketika orangtuanya bercerai, adalah pilihan yang tepat. Meskipun dilalui dengan tangis air mata, kesedihan, dan perjuangan jatuh bangun dari Ayahnya yang berusaha mendirikan perusahaan sendirinya sendiri, tapi Dal-mi tetap tumbuh menjadi wanita yang berintegritas.

Mimpinya tetap tumbuh dan dikejar. Dia ingin membuktikan bahwa segala keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang benar, meskipun kurang tepat. Namun, Dal-mi mampu menerima konsekuensi dari keputusannya itu, dan bahkan menjadinya peluang untuk menggapai tujuan yang lebih tinggi.

Nam Do-san menjadi karakter berikutnya yang membuat saya terkesan. Di awal-awal episode, Do-san terlihat sangat kacau tanpa arah dan tujuan yang jelas. Kalau di drama dibilangnya “berlayar tanpa peta”. Padahal Do-san punya modal kuat sebagai programer handal. Dia menguasai bidangnya. Bakat alami. Hanya saja, dia tidak tahu jalan dalam mengembangkan Samsan Tech ke depannya. Berbagai kompetisi diikutinya dengan harapan Samsan Tech mendapatkan investor, namun jalan masih panjang dan berliku.

Namun, setelah ketemu dengan Han Ji-pyong, perlahan-lahan Samsan Tech menemukan jalannya ke arah yang benar dan berkembang. Disinilah peran mentor sangat penting. Mengarahkan, membimbing, dan mengajarkan perusahaan rintisan agar bisa bertahan dan berkembang, meskipun sangat pedas dan menyakitkan saat pelaksanannya, namun semua itu adalah masukan yang sangat berarti. Jadi, jangan baper saat mendapat kritikan dan masukan, justru dijadikan motivasi dan lecutan untuk berkembang lebih baik lagi.

Do-san memberikan contoh bagus untuk kejujuran dan optimisme. Sejak dia dinyatakan menang sebagai juara nasional olimpiade matematika tingkat nasional, Do-san seolah-olah memendam perasaan tidak nyaman dengan gelar itu. Apalagi, orangtua Do-san yang selalu membanggakan anaknya dan selalu mendorong agar selalu menjadi juara dan terbaik, padahal dia merasa bahwa semua itu adalah kebohongan.

Gelar juaranya diperoleh karena faktor keberuntungan yang membuatnya bisa menyontek jawaban ujian saat itu. Menyimpan kebohongan itu membuatnya tumbuh sebagai seorang yang kurang percaya diri. Namun, setelah mengutarakan kebenaran, dia menjadi sosok yang optimis. Apalagi ketika bertemu dengan Seo Dal-mi, seolah-olah dia terbangun dari tidurnya. Ketika Dal-mi tahu bahwa Do-san yang asli ini bukan Do-san yang menulis surat untuknya 15 tahun lalu, menjadikan Nam Do-san semakin percaya diri untuk jadi dirinya sendiri, bukan Do-san sebagaimana tergambarkan dalam surat Ji-pyong kepada Dal-mi 15 tahun lalu.

Duet maut Nam Do-san dan Seo Dal-mi tak hanya membawa Samsan Tech memenangkan program keanggotaan Sandbox ke-12, diakuisisi 2STO, bahkan sama-sama membawa Cheongmyong Company sebagai perusahaan yang mendapatkan lisensi mobil kemudi kontrol otomatis. Tapi lebih dari itu, keduanya sangat cocok dan klop satu sama lain dalam mengurus perusahaan rintisan. Dal-mi sebagi CEO, sedangkan Do-san sebagai CTO. Saling mengisi satu sama lain.

Begitulah sejatinya dalam kehidupan, kita perlu partner yang saling mengisi kekurangan dan mendukung satu sama lain.

Beralih khusus ke Han Ji-pyong. Karakter ini sangat kuat sekali sebagai sosok yang sangat berpengalaman sebagai investor perusahaan rintisan dan sebagai mentor. Sosok guru yang membimbing muridnya. Sosok yang menjadi rem ketika mobil terlalu kencang melaju. Ji-pyong sangat keras dan disiplin terhadap diri sendiri, perusahaan rintisan yang dimentorinya, dan pekerjaannya, namun sangat lembut ketika bersentuhan dengan keluarga dan cinta.

Disinilah kita bisa belajar banyak hal dari Ji-pyong, bahwa tempaan hidup keras sejak dini bisa membentuk karakter seseorang ketika dewasa. Hanya niat dan visi yang jelas yang menjadikan seseorang akan sukses sesuai apa yang diimpikannya. Ji-pyong juga menjadi contoh bahwa segala sesuatu itu perlu nalar dan realita. Bermimpi boleh, asal realistis dan berdasarkan data, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Pikir matang-matang dulu sebelum bertindak.

Yang terakhir, Won In-jae (Seo In-jae) sejak awal ingin membuktikan bahwa dia sukses dalam karir tidak dianggap sebagai pemberian/jalan berdasarkan relasi atau pemberian ayahnya. Dia ingin dunia melihat bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah buah hasil dari jerih payahnya, bukan karena faktor relasi.

In-jae sudah matang secara pemikiran dan pengambilan keputusan karena pengalamannya sebagai CEO di perusahaan milik ayah tirinya, sehingga menjadi modal kuat untuk memenangkan kompetisi keanggotaan Sandbox ke-12. Namun, sehebat apapun seorang CEO dalam memimpin perusahaan, tetap banyak hambatan yang dihadapinya. Disinilah insting seorang CEO bemain peran, ketika saja saat ditinggal 2 programmer utamanya, dia tidak melihat sebagai kehilangan aset, melainkan peluang besar untuk merekrut ahli baru, dan meminta Dal-mi yang menjadi bawahannya untuk membujuk Do-san dkk untuk mau bergabung ke Cheongmyeong Company.

In-jae memberi contoh bahwa leadership itu sangat penting dalam teamwork. Meski tidak menguasai secara teknis bidang yang dipimpinnya, sebagai seorang leader, harus mampu memberdayakan segala sumber daya yang dimilikinya demi meraih tujuan dan cita-cita bersama.

Jadi…

Kesimpulannya, drama korea Start-Up ini bagus dan memberikan contoh serta cara dalam mengembangkan perusahaan rintisan. Drama ini secara gamblang menggambarkan tentang kalimat Follow your dream. 

Apapun cita-cita dan impian, bila diniati dan bersungguh-sungguh dikerjakan dengan hati sembari berjalan bersama mentor, cita-cita dan impian itu akan perlahan-lahan menemukan jalannya. Menjalani prosesnya memang berat, tapi harus dilalui. Niscaya kesuksesan pun tinggal menunggu waktu.

So, drama ini wajib untuk ditonton. Kalau pun sudah selesai, tonton ulang-ulang lagi juga gapapa.

Bonus : sosok karakter seperti Seo Dal-mi layak untuk diperjuangkan sebagai seorang partner dan pasangan hidup 😁😁😁😁😁

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *