Mencari Ketenangan Singkat di Kampung Gerisar

0 Shares
0
0
0
0
0

Pekan kemarin akhirnya saya bisa menjelajah sudut Merauke lagi. Sudah lama rasanya tidak menikmati suasana alam hutan tropis Papua yang hijau.

Kali ini saya menuju ke sebuah kampung, yang sebenarnya saya tak terduga-duga saya akan bisa menginjakkan kaki di sini. Namanya Kampung Gerisar. Tergabung dalam Distrik Eligobel.

Akses menuju ke sana tidak jauh dari permukiman penduduk bernama Simpati di Poros Trans Papua.

Perjalanan ini sebenarnya adalah kegiatan kantor yang mengharuskan tim kami mengambil darah hewan untuk keperluan pemantauan penyakit hewan. Kali ini, jadwal kami mengharuskan menuju Distrik Muting dan Ulilin untuk mengambil sampel.

Awalnya kebingungan karena kami terhitung orang baru dan belum tahu banyak wilayah di Merauke, apalagi sampai ke kampung-kampungnya. Tapi, Alhamdulillah dibantu oleh Bude Umi, “saudara nemu di Merauke” yang berbaik hati membawa kami ke rumah adiknya di Gerisar.

Jalanan di Kampung Gerisar

Kesan pertama begitu masuk ke kampung ini adalah hening, tenang suasana pedesaan.

Jarak rumah satu dengan yang lain berjauhan dengan halaman luas terhampar, khas rumah-rumah di pemukiman transmigran.

Kanan-kiri terlihat pohon sawit dan hutan yang baru dibuka. Sepanjang mata memandang, banyak sekali pohon rambutan, durian, kelengkeng, dan tanaman kebun buah lainnya. Ijo royo-royo.

Kampung ini memang terkenal dengan perkebunan buahnya, karena menurut petani di sini, tahannya tidak cocok untuk ditanami padi. Katanya terlalu asam saat musim penghujan, sehingga Kampung Gerisar serta Distrik Eligobel secara umum mengandalkan hasil bumi dari sektor perkebunan.

Kebun rambutan dan buah-buahan lainnya

Tenang, Nyaman, Aman

Bermalam selama dua hari di Kampung Gerisar, mengingatkan saya pada masa kecil dimana pemukiman yang masih asri, halaman luas, banyak tanaman, dan minim suara kendaraan bermotor. Apalagi, sinyal telepon seluler belum sepenuhnya bagus disini. Jangankan 4G, untuk telepon dan SMS saja masih susah.

Tapi disitulah daya tariknya bagi saya. Tenang, tanpa gangguan bunyi notifikasi handphone dan bising knalpot motor. Udaranya benar-benar bersih karena sekelilingnya masih hutan alami dan banyaknya pohon rambutan, durian, dan sawit.

Soal air? Betapa segarnya mandi di pagi dan sore hari. Bersih dan bening. Beda dengan air di kota Merauke.

Rumah Bude Umi ini seolah-olah mirip vila yang di pedesaan yang cocok sekali untuk liburan keluarga serta bagi yang ingin short escape dari rutinitas.

Suasana tenang, nyaman, dan aman seperti ini yang saya inginkan.

Kearifan Lokal

Merauke itu keren, toleransi antar umat beragamanya tinggi sekali. Tak hanya di wilayah kota, tapi juga sampai ke kampung-kampungnya.

Bagi saya yang muslim, mau sholat di masjid, tidak susah untuk dicari. Begitu pula di Kampung Gerisar ini. Ada masjid dekat Gedung Serbaguna yang gema adzan dan alunan ayat suci al-qurannya bergema, bahkan saat fajar subuh. Seolah-olah masjid di sekeliling kebun sawit dan hutan yang luas.

Masjid Darul Muttaqiin di Kampung Gerisar

Penduduk di kampung ini sebagian besar transmigran dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai suku bangsa hidup berdampingan.

Yang saya rasakan adalah semangat gotong-royong dan berbagi kepada sesama sangat tinggi. Sangat ramah dan mau berbagi cerita.

Kami yang baru pertama kali bertandang di kampung ini dijamu macam-macam. Bahan makanan kebanyakan dari hasil kebun sendiri, atau pekarangan belakang rumah. Buah-buahan, sayur-sayuran, sampai ayam kampung untuk konsumsi, didapat dari hasil keringat sendiri.

Suasana pedesaan yang masih kental, terjaga, dan jauh dari pengaruh konsumerisme yang berlebihan.

Damaiiinya,,,

Bertandang ke Kampung Gerisar ini membuat saya sejenak melupakan hiruk pikuk rutinitas. Menenangkan pikiran dengan suara burung-burung yang terdengar jelas. Melihat bintang gemintang yang lebih terang karena minimnya polusi cahaya.

Meski demikian, setidaknya perlu turun tangan pemerintah untuk membangun jalan beraspal. Jalan di kampung ini masih tanah yang dikeraskan. Kalau musim hujan begini, dijamin kendaraan sebersih apapun akan kotor lagi kena tanah yang berwarna merah ini. Masih licin. Kasian anak-anak yang harus pergi ke sekolah bila jalanan licin.

Namun, itu semua murni dari sudut pandang saya saat singgah ke Kampung Gerisar ini.

Meski saya tahu bahwa penduduk disini sudah terbiasa dengan keadaan di kampung ini, dengan jalanan yang licin dan belum beraspal. Tak ada kata mengeluh untuk menjalani hidup.

Yang ada adalah menjalani hari-hari dengan ketenangan alami yang jarang-jarang bisa didapatkan di masa-masa kini.

Suatu suasana kebatinan yang tenang dan nyaman untuk merenung dan menikmati keheningan alam.

0 Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published.