Life

Alasan Saya Selalu Gundul Plontos

Saya sendiri termasuk pribadi yang tak suka ribet dalam segala hal, termasuk tatanan rambut.

Berjibaku dengan pekerjaan setiap hari yang menuntut serba cepat dan penuh deadline, membuat saya cenderung suka hal-hal praktis dan tak menyita banyak waktu. Alhasil saya memangkas habis rambut saya alias gundul plontos.

Sudah bertahun-tahun bergaya plontos. Seingat saya sejak masih di bangku pendidikan koasisten dulu sewaktu masih di Bogor, meski waktu itu cuma pangkas pendek saja, sesenti-dua senti pakai clipper nomor 1-2.

Namun, setahun dua tahun ini berani tampil beda dengan kepala tak berambut sama sekali.

Selalu gundul plontos di setiap kesempatan

Mengapa saya nyaman dengan potongan kepala plontos? Banyak hal yang mendorong saya melakukan gaya potongan rambut ini.

Akar rambut banyak yang rusak. Entah bagaimana ceritanya, saya semenjak di Merauke cenderung mudah muncul bisul, terutama di daerah yang memiliki akar rambut. Makanan yang berprotein tinggi di sini, membuat tubuh saya mengalami sensitif. Kalau salah makan sedikit saja, bisul dengan gampangnya tumbuh di kepala atau punggung, terutama setelah makan ikan dan seafood. Saking banyaknya, pertumbuhan rambut kepala jadi rusak. Sekali rambut tumbuh, yang ada malah terlihat bopeng-bopeng dan pitak sana sini karena bagian bekas bisul tak kunjung tumbuh akar rambut baru. Hal itu membuat saya kurang percaya diri kalau bertemu dengan orang-orang jika punya rambut.

Sedang dalam perawatan penumbuh rambut. Gara-gara dirusak sama bisul ini, menjadikan saya melakukan perawatan supaya rambut bisa tumbuh kembali. Agar serum penumbuh rambutnya mudah meresap, lebih mudah pengaplikasiannya saat kepala plontos.

Saking seringnya gundul, jadi nyaman dengan gaya rambut ini. Saya mencukur kepala seminggu 2x, tiap hari Minggu dan Rabu, atau hari lain sesempatnya, yang penting tidak lebih dari jeda 6 hari. Semakin sering dicukur, rambut semakin cepat tumbuh. Sekali saya cukur, 2-3 hari setelahnya sudah terasa pertumbuhannya. Karenanya, saya sering mencukur

Merauke cuacanya extremely hot. Apalagi bulan-bulan akhir tahun seperti ini, matahari sedang terik-teriknya. Wilayah geografis Merauke yang dekat dengan benua Australia menjadikan musim dan cuacanya mengikuti negara itu. Bulan Juli-Januari menjadi bulan-bulan paling panas dan gerah, puncaknya di bulan November-Desember. Jadinya kepala mudah berkeringat dan bau. Dengan kepala plontos, angin mudah mengalir dan mendinginkan kepala. Saat mengambil air wudhu pun bisa dengan mudah mengguyurnya dengan air, dingin jadinya. As simple as that.

Perawatan mudah, namun perlu perhatian lebih. Tak berambut bukan berarti tak melakukan perawatan. Mudah karena tak ribet untuk menyisir rambut, terlebih saat waktu mepet dan perlu membetulkan rambut yang berantakan. Namun juga, perlu diperhatikan karena kepala plontos lebih mudah kotor dan terkontaminasi debu dan kotoran. Kalau tidak sering dibersihkan, bisa menyebabkan gatal. Jadinya sering-sering mandi dan membersihkan kepala.

Mudah diingat orang. Tak banyak orang yang mau mencukur habis rambutnya secara konsisten. Selain mencerminkan karakter seseorang, potongan rambut plontos bisa dengan mudah dikenali dan diingat orang. Ini juga yang saya lakukan, menjadikannya sebagai ciri diri.

Itulah alasan mengapa saya sampai sekarang berkepala gundul plontos. Alasan utama tentunya dari segi kesehatan, sisanya karena faktor kenyamanan semata.

Jadi, berani tampil beda dengan kepala gundul? kalau saya sih iyesss. Hee…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *