Impresi Saya Selama Hampir Tiga Tahun Ini Bertugas di Merauke

Bulan Agustus sudah memasuki pertengahan bulan. Sangat cepat tak terasa. Waktu cepat berlari bagaikan angin musim pancaroba yang menerbangkan debu-debu di lantai 🙂 🙂 🙂

Anyway, bila dihitung-hitung, ternyata saya sudah bertugas di Merauke tercinta ini memasuki waktu 2 tahun 7 bulan. Waktu yang tidak sebentar untuk mengabdi kepada masyarakat dan membangun negeri. Bekerja pada lingkungan kerja yang baru, yang jauh dari orangtua, kerabat, sahabat, dan tentunya kucing saya, Dimas.

Banyak suka duka selama tinggal di Merauke. Tiba-tiba, angan-angan langsung kembali melayang pada saat saya menginjakkan kaki pertama di Bandara Mopah Merauke pada tanggal 8 Februari 2018 silam. Saya belum pernah ke Papua sebelumnya, by the way.

Kali pertama tiba di Bandara Mopah Merauke

Kalau boleh saya cerita… begitu keluar dari pesawat kesan pertama adalah wow… panas… Ya iyalah, sampai Merauke siang. Saking excited-nya saya langsung foto di Bandara Mopah Merauke sampai micing-micingkan mata saking teriknya.

Setiba di kantor baru, saya menekankan dalam diri sendiri bila di sini lah tempat saya mengembangkan diri selama beberapa tahun ke depan. Tempat saya mencari nafkah. Iya betul, di kantor Karantina Pertanian Merauke.

Seiring waktu berjalan, pelan-pelan mulai kenal dengan rekan-rekan, masyarakat, dan sesama perantau di Merauke. Lama-lama menjadi teman, kerabat, dan saudara baru. Meski di ujung negeri, ritme pekerjaan sama dengan belahan Indonesia lainnya. Barangkali karena memang instansi tempat saya bernaung ini adalah instansi pusat dibawah kementerian sehingga “satu suara”.

Sampai tak terasa sudah 2,5 tahun aja saya di Merauke. Lalu, apa saja impresinya? Kalau saya sih banyak.

Masyarakat Majemuk, Toleransi Tinggi

Saat berkunjung ke Kampung Yakyu tahun 2018 silam

Tahun pertama menjadi tahun yang paling membuat saya terheran-heran sekaligus kagum. Penduduknya tak hanya masyarakat asli Papua, tapi banyak juga pendatang. Berbagai suku di Indonesia ada di Merauke. Alhasil, jajan makan di warung pun tidak susah karena berbagai makanan di Jawa ada di Merauke 🙂

Masyarakat suku Marind (suku asli Merauke) begitu ramah dan welcome. Yang saya rasakan adalah masyarakat di Merauke secara global sangat toleran, saling menghormati satu sama lain, dan tidak ada jarak sama sekali. Saat lebaran tiba, semua orang bersilaturahmi ke kerabat-kerabat muslim yang sedang merayakan hari raya.

Begitu juga saat natal, orang-orang bersilaturahmi ke kerabat-kerabat kristiani yang sedang merayakan natal. Semua guyup rukun tanpa ada sekat-sekat status, suku, ras, dan agama. Kebhinekaan benar-benar terasa di bumi Animha ini, miniatur Indonesia yang sebenar-benarnya. Hal ini lah yang paling saya suka dari Merauke.

Lingkungan yang Asri dan Damai

Tempat ini namanya Barki, spot terkenal untuk memancing.

Tak banyak yang tahu kalau ternyata Kabupaten Merauke merupakan kabupaten paling luas wilayahnya se-Indonesia. Luas bangettt… jarak satu distrik ke distrik lainnya udah mirip perjalanan melewati beberapa kabupaten di Jawa.

Topografi Merauke itu datar sedatar-datarnya. Tidak ada bukit apalagi gunung. Lebih dominan pantai dengan tanah berawa-rawa. Uniknya, jarang terlihat ada batu. Iya, batu. Sesuatu hal yang lumrah dan ditemui dimana saja, tapi di Merauke batu harus didatangkan dari wilayah lain untuk keperluan pembangunan.

Wilayahnya yang luas namun penduduknya bisa dibilang masih jarang. Populasi yang sedikit ini membuat alam di Merauke masih asri. Hutan belantara masih sangat luas. Belum lagi bicara soal keragaman flora-fauna asli Merauke yang tidak ditemukan di belahan Indonesia lainnya.

Kalau pagi, masih dengar burung-burung bersahut-sahutan. Bahkan, pernah saat saya jalan ke perbatasan di pagi hari masih ketemu kanguru yang loncat-loncat liar di alam bebas. Seru.

Anti Macet

Jalan Trans Papua poros Sota

Merauke itu antimacet. Jalanan yang lebar dengan jumlah kendaraan yang masih sedikit, bisa memangkas jarak tempuh kemana-mana dengan sangat-sangat signifikan (bila dibandingkan Jawa, sumpah).

Soalnya saya bertahun-tahun mengalami bagaimana rasanya struggle dalam kemacetan ibukota yang sangat-sangat membuat stres dan tua di jalan.

Kalau di kota Merauke-nya, jalanan sudah diaspal mulus, tapi beberapa distrik dan kampung sayangnya masih banyak jalan yang rusak. But, overall it’s okay. Karena kendaraan bermotor di sini tangguh-tangguh, teruji melewati banyak rintangan.

Bahan Pangan Relatif Murah

Ikan yang melimpah di alam

Ini poin plusnya, bahan pangan relatif murah dan mudah didapatkan. Merauke itu lumbung berasnya Papua. Tak heran memang, dengan sawah menghampar ribuan hektar dan tanah yang begitu subur, menjadikan padi tumbuh dengan baik disini.

Belum lagi bicara soal sayur-mayur yang beraneka rupa. Tak jarang malahan kita tinggal cabut sayurannya sendiri di halaman. Atau, kalau pas panen raya misalnya saja cabai atau tomat yang melimpah, kita sering dikasih gratis sama bude-bude yang punya kebun.

Lain lagi soal buah-buahan, misalnya mangga, rambutan, durian, buah naga, alpukat, pisang, dan lain sebagianya. Kalau pas musim, beuhh… dijamin kenyang. Suerrr…

Sumber protein hewan, bagaimana? Tenang… ikan buanyaaakk dan terjangkau. Daging sapi menjadi primadona. Peternakan sapi di sini macam benua Australia yang menggunakan sistem diumbar karena saking luasnya lahan dan tak perlu kuatir kekurangan stok rumput. Daging rusa juga banyak dijual, makanya tak heran Merauke disebut sebagai Kota Rusa. Daging-daging itu banyak yang diolah jadi bakso. Well, bakso (pentolan) Merauke begitu digemari.

Tak lengkap rasanya kalau singgah di Merauke tanpa membawa oleh-oleh bakso, dijamin bakal ketagihan.

Gemar Bercocok Tanam

Bercocok tanam di pekarangan

Satu lagi. Masyarakat sini gemar memanfaatkan lahan untuk bercocok tanam. Entah karena faktor lahan atau halaman rumah yang luas sehingga sayang kalau tidak dimanfaatkan, tapi perilaku masyarakat yang satu ini patut diacungi jempol.

Seperti ada aturan tak tertulis, atau let’s say semacam dorongan begitu, bahwa bercocok tanam itu baik. Makanya, rumah yang sempit sekalipun punya tanaman di rumahnya.

Tampaknya, pemerintah sedikit tenang bila tak melakukan sosialisasi akan pentingnya urban farming misalnya, di Merauke ini. Lha, sistem sudah berjalan. Acung jempol kepada para penyuluh-penyuluh pertanian atas kerja keras dan dedikasinya, yang sudah berhasil dalam membuat swasembada pangan bukan sesuatu hal yang mustahil diwujudkan di Merauke.

Saya sendiri punya banyak tanaman, terutama bunga anggrek, dan kini sedang menanam sayur-sayuran. Saya suka lihat hijau-hijauan di pekarangan dan semangat untuk ikut-ikutan menanam.

Lain kali kita bicara soal bidang pertanian di Merauke tersendiri, yaah…

Begitulah impresi saya tentang Kabupaten Merauke yang begitu nyaman ditinggali. Tentunya ada hal-hal lain selain yang saya sebutkan di atas. Misalnya saja kriminalitas yang relatif rendah, perasaan aman, koordinasi dengan instansi lain, hingga keinginan untuk maju bersama kota Merauke ini, yang juga semakin maju dari hari ke hari. Sampai-sampai berkeinginan untuk berganti KTP disini suatu saat nanti, ehh 🙂 Why not?

Izakod Bekai Izakod Kai (satu hati satu tujuan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *