Life

Kompilasi 2019 (Bagian 1)

Tahun 2019 tinggal menghitung tiga hari lagi segera berakhir. Kini, waktunya meresapi dan merenungkan apa saja yang sudah terjadi, dan perbuatan apa yang sudah saya perbuat hingga menimbulkan dampak bagi sesama.

Hampir setahun penuh ini saya mengalami banyak peristiwa, ada yang menyenangkan, ada pula yang mengharukan. Campur-campur. Semua itu membuat saya belajar untuk semakin memahami diri untuk terus berkembang menuju ke arah yang lebih baik lagi.

Sebagai pengingat, saya tulis beberapa peristiwa yang berkesan pada masing-masing bulan.

Januari

Saya mengalami sakit yang luar biasa di punggung. Pemicunya adalah makan seafood yang berlebihan, sehingga memicu tubuh bereaksi terhadap excess protein. Hampir masuk UGD karena bisul besar yang menyebabkan infeksi parah. Alhamdulillah, dengan diet minim protein tak kambuh lagi. Sejak itulah, saya menyadari tubuh saya intoleran terhadap makanan berprotein tinggi terutama ikan, seafood, dan telur.

Merauke dikaruniai sumber daya alam dan kesuburan tanah yang luar biasa. Januari menjadi musim bagi rambutan untuk menebarkan rasa manisnya. Saat puncak musim, harga rambutan bisa sangat murah. Tentunya menjadi hal menyenangkan bagi saya yang suka buah. Di Januari pula pekerjaan saya di lapangan dalam mengawasi komoditas pertanian yang dibawa keluar Merauke semakin meningkat. Itulah hikmahnya.

Februari

Februari menjadi kenangan manis karena kedatangan teman-teman CPNS baru. Personel kantor jadi tambah lengkap dan saling mengisi. Semangat muda yang masih membara dalam membangun negeri. Maklum, saya dan teman-teman baru ini terhitung sebaya, sehingga banyak kecocokan satu sama lain dalam ide, pemikiran, dan menangani pekerjaan.

Bulan romantis tak hanya dirasakan bagi Pak Karsono, rekan kerja yang melangsungkan pernikahannya, tapi juga bagi walabi (kanguru asli Merauke) kantor yang menggemaskan ini. Akhirnya dia punya pasangan! Sebelumnya hanya ada dua walabi yang semua betina, dan kini ada pejantan yang mau mengawininya. Selamat!

Maret

Akhirnya saya ke Borobudur! Setelah sekian puluh tahun sejak balita terakhir mengunjungi objek wisata kebanggaan rakyat Indonesia ini. Tambah spesial karena saya berwisata bersama bapak, ibuk, dan adek. Formasi keluarga lengkap, minus Si Dimas, kucing saya yang paling disayang-sayangi melebihi cucu tetangga. Sebenarnya, ke daerah Borobudur ini karena saya menghadiri resepsi pernikahannya Mbak Rubi, kakaknya Mamah Catur di daerah Salaman, Magelang. Karena lokasinya dekat, jadi sekalian saja mengunjungi dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Ini juga menjadi penyemangat saya bahwa meski kerja di Papua, pasti ada waktu dan semangat untuk berkumpul dengan keluarga.

Bicara soal keluarga, saya juga berkesempatan magang dan berinterasi dengan senior-senior di Tanjung Priok. Meski hanya tiga hari dituntut menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dan pengalaman, tapi suasana keakraban dan kekeluargaan rasa korsa begitu terasa. Teman-teman baru, keluarga baru.

April

Momen seru di bulan April adalah ketika saatnya bertemu dan belajar tentang ilmu perkarantinaan bersama teman-teman se-angkatan se-Indonesia. Dari ujung barat hingga ujung timur negeri. Meski sesama dokter hewan, tapi menyamakan pandangan dan sama-sama mendalami ilmu, menjadi penting agar saat melakukan pekerjaan di daerah masing-masing punya kesamaan visi, misi, dan prosedur.

Di bulan ini juga, negara menggelar hajatan besar dengan adanya pemilu serentak memilih presiden-wakil presiden dan wakil rakyat di parlemen. Yang membuat saya bersyukur adalah diberi kesempatan untuk mencoblos, meski KTP dan tempat pencoblosan berlainan. Padahal banyak teman yang terganjal karena proses administrasi ini sehingga kehilangan haknya sebagai warga negara. Yang patut diapresiasi dari penyelenggaraan pemilu ini adalah tingkat partisipasi dan antusiasme warga (khususnya anak-anak muda) yang tinggi dalam mencoblos.

Mei

Masih lanjut mengikuti diklat teknis perkarantinaan, saya mendapat kesempatan magang di Jogja. Kegiatan intinya sih praktek lapang ya. Tapi, realitasnya lebih dimaknai dengan jalan-jalan. Haha… Setiap berkunjung ke tempat-tempat instalasi karantina pasti belok ke tempat wisata setelahnya. Lha, gimana banyak spot menarik si Jogja, sayang kalau tidak sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui. Saya juga berkesempatan berfoto di tempat yang sejak dari dulu ingin saya foto disitu: di gerbang UGM! Ada keinginan dari sanubari untuk mengenyam pendidikan di kampus ini. Bismillah, semoga suatu hari nanti bisa melanjutkan pendidikan di UGM. Amiinn…

Dan, akhirnya saya menghabiskan waktu panjang bersama Dimas di rumah. Kucing kesayangan keluarga yang bikin kangen, yang sukanya minta makan dan tidur. Kucing yang tiap hari minta di video-call dan minta dipanggil-panggil terus. Akhirnya bisa peluk-peluk dan elus-elus kepalanya, dan tentunya memberinya treats kesukaannya. Menyenangkan kalau punya hewan piaraan itu.

Juni

Bisa berlebaran di rumah itu adalah kesempatan langka. Apalagi menjadi petugas karantina yang harus siap bertugas saat hari-hari raya karena tingginya lalu lintas komoditas pertanian. Bersyukur karena bisa mencium tangan kedua orangtua dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga di kampung halaman. Meski, terus-terusan ditanya mana pasangannya, tapi saya tetap bahagia bisa mencicipi masakan ibuk di rumah dengan leluasa.

Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni diperingati oleh semua warga negara Indonesia. Bagi ASN, wajib mengikuti upacara meski bukan di instansi bekerja. Alhasil, saya nebeng upacara di kantor BPS Rembang, dan ternyata banyak juga dari instansi lain yang ikut upacara. Hehe. Sama-sama nasib perantauan. Kembali ke Merauke, melakukan giat pengawasan di Perbatasan Sota, saya tergabung bersama instansi lain mengecek komoditas pertanian yang dibawa dari Negara Papua Nugini. Ini penting demi mencegah masuknya ancaman penyakit asal hewan dan tumbuhan dari luar negeri ke dalam wilayah Indonesia. Itulah tugas saya. Bekerja lagi setelah libur panjaangg…

Kepanjangan… Bersambung ke Bagian 2

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *