Terhipnotis Indahnya Alam Raja Ampat

Bagi saya, akhir tahun 2019 menjadi akhir tahun yang berkesan, karena untuk pertama kalinya saya berhasil menuju Raja Ampat.

Siapa yang tak kenal Raja Ampat? Hampir semua orang di Indonesia mengenalnya. Indahnya paduan bukit kars dan birunya laut, menjadikan kawasan Raja Ampat tersohor kemana-mana.

Saya berkesempatan menuju Raja Ampat ini seolah-olah seperti kejatuhan durian runtuh. Tak direncanakan dan tiba-tiba. Karena pekerjaan mengharuskan saya berdinas ke Kota Sorong, Papua Barat, dan untungnya ada waktu luang seharian, makanya saya ikut-ikutan rombongan mini ke Raja Ampat pada Hari Minggu.

Rombongan kami menuju Raja Ampat

Saya bersama teman-teman dari Merauke bertemu dengan rekan-rekan kerja dari kantor Pusat melakukan trip sehari ke Raja Ampat. Tidak berlama-lama memang, tapi seharian menikmati suguhan alam yang luar biasa indahnya itu, membuat kami terhipnotis.

Dari Pelabuhan Ikan Kota Sorong, kami naik speedboat bersama Bapak Xavier, pemandu kami dari @jalanjalanrajaampat (bisa langsung cek Instagramnya). Uniknya, kami mendapat tumbler air minum sebagai suvenir. Alasannya, wilayah Raja Ampat merupakan kawasan konservasi yang harus dilindungi dari sampah plastik. Jadi, botol air minum kemasan sekali buang itu dilarang untuk dibawa supaya tidak mengotori lautan.

Setelah 3 jam lamanya membelah lautan dan melewati pulau-pulau kecil perbukitan kars, tibalah kami di titip pertama: Piaynemo. Spot ini menjadi salah satu titik terbaik menikmati panorama Raja Ampat. Inilah suguhan alam yang utama, titik favorit para turis. Memandang lautan lepas dari puncak bukit dengan pucuk-pucuk kars yang muncul dari dasar laut, rimbunnya pepohonan, dan laut hijau toska yang cemerlang, sungguh memanjakan mata. Tak henti-hentinya kami berucap syukur dan berdecak kagum akan keelokan dan kecantikan alam Raja Ampat ini.

Oiya, mendapatkan view seperti ini butuh sedikit perjuangan karena harus naik ke atas bukit terjal. Namun tenang, sudah dibangun anak tangga yang bagus dan anti selip. Tinggal jalan kaki ke atas saja dan ikuti rambu-rambu. Dijamin, rasa lelah dan panas akan terbayar.

Puncak bukit Piaynemo dan hamparan bukit kars di bawahnya

Itu baru satu spot. Masih di kawasan Piaynemo, kami diajak menuju Telaga Bintang, formasi bukit kars yang membentuk telaga seolah-olah mirip bintang kalau dilihat dari atas. Di spot ini lumayan terjal jalannya untuk naik ke atas bukit. Tidak ada tangga. Betul-betul batu yang dibikin pijakan. Harus super hati-hati kalau mau berniat ingin melihat Telaga Bintang dari atas. Tapiii, begitu sampai di atas, beuhh, cakeeppnyaa pemandangan sekitar. Beneran ternyata, telaganya berbentuk bintang. Dengan air hijau toska dan terumbu-terumbu karang yang menyembul dari dasar lautan.

Telaga Bintang

Sejenak istirahat di tepi bukit, menikmati makan siang sembari memandang alam dan ikan warna-warni penghuni terumbu karang Piaynemo. Kami melanjutkan perjalanan menuju Pasir Timbul yang lokasinya tak jauh. Pasir ini seolah-olah pulau yang tenggelam, dia muncul ke permukaan saat air laut sedang surut. Beruntungnya kami, air memang sedang surut dan inner child kami meledak-ledak disini. Lari tunggang langgang sambil ciprat-cipratan air laut semata kaki, loncat-loncatan sembari berswafoto ria, sungguh begitu menyenangkan. Seolah-olah lupa beban hidup. Hahaha…

Pasir Timbul

Menikmati pesona alam di Pasir Timbul ini tak begitu lama, suhu udara terlalu panas. Maklum berdiri di atas pasir di tengah-tengah lautan, cukup bikin kulit terbakar. Akhirnya, perjalanan dilanjutkan kembali menuju spot terakhir: snorkling.

Luar biasa pemandangan dasar laut. Terumbu karang beraneka jenis dan warna menari-nari mengikuti gelombang. Ikan-ikan berbagai jenis, ukuran, dan warna, tak terhitung jumlahnya. Bergerombol mendekati kami yang nyemplung melakukan snorkling ini, dan berharap kami memberi makanan buat mereka. Pengalaman menarik saat saya bawa sejenis roti untuk memancing mereka datang. Dan benar saja, mereka mendekat. Meski lumayan gesit kalau dipegang, tapi ikan-ikan karang ini lucu-lucu dan tak takut sama sekali sama manusia. Selayaknya hewan piaraan saja, bedanya ini di lautan lepas. Menakjubkan.

Snorkling dengan pemandangan bawah laut yang indah

Mengunjungi Raja Ampat menjadi penutup tahun 2019 yang sangat manis. Sudah sejak dari dulu saya mengidam-idamkan mengunjungi tempat ini, berharap suatu saat nanti bisa cuci mata dan melepas penat di sini. Alhamdulillah, tercapai sudah keinginanku itu.

Kini, berbekal semangat dan energi yang baru, siap menatap masa depan yang lebih baik lagi di tahun 2020. Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *